Sebagai sebuah konsep, ekokritisisme mulai muncul pada tahun 1970-an dalam sebuah Konferensi WLA (The Western Literature Association). Awalnya, konsep ekokritik ini telah dikenal sebagai ‘the study of nature writing’. Lalu istilah ekokritisisme pertama kali digunakan oleh William Rueckert (1978) dalam esainya yang berjudul Literature and Ecology: An Experiment in Ecocriticism. Michael P. Branch mulai menelusuri istilah ekokritisisme dalam esainya yang berjudul What is Ecocriticism? yang kemudian istilah ekokrisisme ini menjadi sangat dominan menjelang pelaksanaan WLA berikutnya pada tahun 1989.
Selanjutnya, Cheryl Glotfelty dan Harold Fromm (1966) mengetengahkan gagasan tentang ekokritisisme melalui esainya yang berjudul The Ecicriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology. Dalam esainya ini pengaplikasian konsep ekologi terhadap sastra menjadi tujuan mereka, di mana bumi (alam) menjadi pusat studinya. Selanjutnya Glotfelty menyimpulkan definisi ekologi adalah sebagai studi tentang hubungan antara sastra dan lingkungan hidup.
Dari beberapa teori di atas, dapat dikatakan bahwa alam telah menjadi bagian dari sastra pun sebaliknya. Banyak penyair yang menggunakan bebagai diksi tentang alam dalam puisi-puisinya seperti Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono atau Henry David Thoreu dalam karyanya yang berjudul Walden, serta William Wordsworth dengan puisinya berjudul Dafodils. Kesemua penyair ini melukiskan betapa alam sebagai sesuatu yang begitu luar biasa. Mendeskripsikan alam dalam sastra, khusunya puisi juga dilakukan dengan berbagai cara seperti diwakilkannya keajaiban alam dalam sosok perempuan. Puisi berjudul She Walks in Beauty karya Shakespears contohnya. Dalam puisi ini Shakespears mendeskripsikan dua keindahan yang diciptakan Tuhan sekaligus yaitu, alam dan perempuan.
Namun seiring perkembangan, sastra telah mengalami perubahan, begitu juga dengan alam. Kedua elemen ini nampaknya akan selalu beiringan. Sastra tempo dulu merupakan wajah alam masa lalu, dan sastra sekarang merupakan sastra wajah masa kini (Firman: 2009). Puisi sebagai bagian dari sastra telah sejak lama menjadi media untuk mereprentasikan alam melalui imaji para penyair dengan diksi-diksi yang mendukung atas hal itu. Kerap kali penyair menuliskan tentang apa yang terjadi di alam sekitarnya,ataupun di dalam jiwanya.
Melalui imajinasi visual, konsep ekokritisisme dalam puisi dikemas sedemikian rupa dari berbagai sudut pandang, tetap dengan alam sebagai unsur utamanya. Puisi menjadi buah karya dari alam itu sendiri. Sehingga pantas saja jika sastra disebutkan sebagai ‘wajah alam’.
Selain itu, suatu karya tercipta karena adanya kegiatan kontemplasi atau perenungan dengan alam. Mengutip tulisan Betta Anugerah Setiani dalam papernya berjudul “Kontemplasi, Kepedulian, dan Kemapanan dalam Syair Tanah Lahir”, ada tiga hal yang menjadi unsur penciptaan suatu karya, yaitu kontemplasi, kepedulian dan kemapanan. Akibat adanya perenungan (kontemplasi), manusia akhirnya akan melahirkan suatu sikap yaitu munculnya rasa kepedulian. Selanjutnya kepedulian itu merambah pada kemampuan seseorang dalam menciptakan suatu hasta karya. Tidak mungkin suatu karya tercipta tanpa adanya teknis sebagai proses.
Akhirnya karya tersebut dapat diciptakan karena kemapanan penulis yang tidak hanya mapan dalam pengetahuan linguis, akan tetapi lebih penting kepada proses pemaknaan aktualisasi kehidupan.
Salah satu contoh puisi yang menerapkan konsep ekokritik ini adalah puisi karya Taufik Ismail yang berjudul “Membaca Tanda-Tanda”. Puisi ini mendeskripsikan secara langsung bagaimana hubungan alam dengan manusia beserta dampak yang ditimbulkanhya. Adanya kegiatan kontemplasi yang dilakukan penulis membuat dirinya dapat membaca alam dengan seksama, mengecam perusakan alam yang dilakukan oleh manusia lewat bahasa puisi.
Sebagai kesimpulan, konsep ekokritik ini intinya adalah menyerukan bagaimana seharusnya manusia menyikapi alam sebagai komunitas, bukan komoditas. Dalam sebuah jurnal berjudul A Sand County Almanac With Essay on Conservation from Round River, Aldo Leopold mengatakan bahwa jika kita melihat alam sebagai komunitas, maka kita akan menggunakannya dengan bijak dan penuh rasa cinta.