Tyara Rahmannisa
Sudah lama sekaliSejak gemerlap lampu kota menyeret kami hingga ke tepian
Lembaran kardus dan potongan kayu lapuk tak pernah dipersalahkan
Hingga suatu hari, sebuah permintaan membuatku sangsi;
“Ibu
Aku ingin sebuah rumah
dengan jendela-jendela besar yang terbuka lebar
agar aku bisa menyambut pagi dari balik bingkainya”
“Ayah
Aku ingin sebuah rumah
dengan atap yang kokoh dan lantai yang bersih
agar hujan tak lagi menyapu rumah kita
dan panas tak lagi membakar tiap sisinya”
“Kakak
Aku ingin sebuah rumah
dengan kamar yang rapi dan selimut yang tebal
agar mimpi indah tak terusik sepanjang malam”
Lelah berkata-kata, ia tertidur lelap
Oh Tuhan,
mimpiku masih sama
Seperti warna jingga yang ku lihat di langit barat
Inilah do’aku,
Berilah kami rumah, Tuhan..
Bandung, 10 Agustus 2015
Juara 2 dalam antologi puisi "Rumah"
Kakaye Publishing - Agustus, 2015