Senin, 20 Juni 2016
Petrichor
Tyara Rahmannisa
Di depan sebuah bingkai kayu
ia membawa sepucuk surat lalu membacakan isinya untukku
Di atas kaki-kaki kursi tua berwarna cokelat muda
aku duduk lalu menyimak pesan itu
yang hurufnya tak pernah luntur walau bercampur hujan
Ia berkisah tentang awan-awan yang berkelana
melewati gunung, lembah hingga muara
Lalu sampai di negeri yang kering kerontang
Di mana matahari meraja dan mereka meronta-ronta
Dari sini,
aku bisa melihat air hujan jatuh terlihat seperti garis-garis buku
Sementara mentari bersembunyi, tak merajai lagi
Ia terus membaca kalimat-demi kalimat hingga
sekujur tubuhnya telah basah dan menggigil
pesan itu hampir selesai dibacakannya
lalu ditutup dengan aroma tanah
yang membawanya pergi selepas hujan
meninggalkan damai juga luka
Bandung, 29 Mei 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar